MANOKWARI, mangrove.id| Proses seleksi Calon Anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Tingkat Provinsi Papua Barat Tahun 2026 terus berjalan secara intensif. Guna menjaring putra-putri terbaik yang memiliki ketahanan fisik optimal, panitia menyelenggarakan rangkaian tes yang meliputi pemeriksaan kesehatan menyeluruh (Medical Check Up) dan tes kesegaran jasmani (kesamaptaan).
Langkah ini krusial untuk memastikan seluruh kandidat mampu mengikuti pola pelatihan yang berat dan berisiko tinggi sebelum hari upacara bendera.

Koordinator Tim Medis Paskibraka, dr. Denis Kaiba, mengungkapkan bahwa pihaknya telah merampungkan tahapan Medical Check Up (MCU) bagi para peserta selama satu hari penuh di RSUD Provinsi Papua Barat, Jumat (29/5/2026). Pemeriksaan ini mencakup pengukuran fisik standar hingga fungsi organ dalam.
“Kemarin (Jumat.red) kita melakukan MCU terhadap peserta calon Anggota Paskibraka. Di mana itu mencakup pemeriksaan tinggi badan dan berat badan untuk menyeleksi terlebih dahulu, karena ada batas minimalnya,” ujar dr. Denis yang dijumpai di gedung RTP Borarsi, Manokwari, Sabtu (30/5/2026).

Selain postur tubuh, dr. Denis mengungkap, tim medis juga melakukan pemeriksaan fisik mendalam seperti tekanan darah (tensi) untuk memetakan kondisi kesehatan para calon.
“Kami mengecek parameter tertentu untuk melihat apakah peserta mempunyai kelainan atau tidak, yang nantinya bisa memengaruhi jalannya prosesi pelatihan hingga acara upacara bendera,” tambah dr. Denis.
Untuk menyukseskan tahapan ini, RSUD Provinsi Papua Barat menerjunkan tim medis yang terdiri dari lima personel, meliputi empat perawat dan satu dokter.

Setelah dinyatakan aman secara medis, para peserta diuji dalam tes kesamaptaan atau Kesegaran Jasmani (Garjas). Koordinator Pelatih Paskibraka, Sertu Hendrigu, menjelaskan bahwa kesamaptaan ini dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu Garjas A dan Garjas B.
Dimana Garjas A meliputi tes lari selama 12 menit untuk mengukur jarak tempuh terjauh peserta, sedangkan Garjas B meliputi gerakan push-up, sit-up, dan shuttle run (lari bolak-balik).
Sebelum berlari, ia mengatakan, tensi darah peserta wajib diperiksa ulang untuk menjamin keselamatan mereka.
Ia menegaskan, bahwa kesehatan jasmani bersifat mutlak karena latihan Paskibraka menuntut fisik yang sangat prima. Ketidakkesiapan fisik dinilai sangat berisiko, baik bagi performa tim maupun keselamatan individu peserta itu sendiri.
“Saat latihan langkah tegap, misalnya, kalau mereka punya penyakit lambung itu akan sangat mengganggu dan gerakannya tidak akan sempurna. Bahkan bisa saja mereka tiba-tiba pingsan di saat latihan. Hal-hal seperti itu yang kita hindari melalui tes Garjas ini,” tegas anggota Kodam XVIII/Ksr tersebut.
Guna mengawal seluruh rangkaian latihan fisik ini, Kodam XVIII/Kasuari menerjunkan 5 orang pelatih pilihan, yang terdiri dari 4 pelatih pria dan 1 pelatih wanita. Kombinasi ketat antara pengawasan medis dari RSUD Provinsi Papua Barat dan pembinaan fisik dari Kodam XVIII/Kasuari diharapkan mampu melahirkan calon-calon Paskibraka asal Papua Barat yang tangguh dan siap tampil sempurna di puncak HUT RI ke-81 baik di kantor Gubernur Papua Barat bahkan di Istana Negara Jakarta. (len)
































Hari ini : 430
Kemarin : 478
Total Kunjungan : 222168
Hits Hari ini : 838
Who's Online : 7