Menu

Mode Gelap

Nasional · 6 Mei 2026 17:15 WIB ·

Kisah Naftali Waney Menjemput Takdir di Jalur Welding


 Kisah Naftali Waney Menjemput Takdir di Jalur Welding Perbesar

MALUKU UTARA, mangrove.id| Bagi Naftali Kristian Waney, hidup adalah tentang keberanian mengambil keputusan sulit. Beberapa tahun lalu, pemuda suku Wamesa ini berdiri di persimpangan jalan, melanjutkan karier sepak bolanya yang sedang naik daun atau meletakkan sepatu bola demi mengenakan helm las (welding mask).

Kini, menatap kilatan api di PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Maluku Utara, Naftali tahu ia telah memilih jalur yang tepat.

Naftali adalah alumni angkatan ke-13 Pusat Pelatihan Teknik Industri dan Migas (P2TIM) Teluk Bintuni. Mengambil spesialisasi Welder dengan kualifikasi 4G Kombinasi, ia mengaku keputusan bergabung dengan P2TIM adalah titik balik terbesar dalam hidupnya.

“Itu adalah salah satu pilihan terbaik dalam hidup, walaupun saat itu karier sepak bola saya juga sedang bagus-bagusnya,” kenang pemuda berusia 24 tahun tersebut, Senin (5/5/2026).

Sejak November 2023, Naftali telah mengadu nasib di Maluku Utara bersama PT Bika Mandiri Kencana (BMK). Konsistensi dan etos kerjanya terbukti; ia baru saja menandatangani kontrak ketiganya. Namun, bagi Naftali, ini bukan sekadar soal rupiah, melainkan soal kematangan mental.

P2TIM tidak hanya membekali Naftali dengan teknik menyambung besi. Di sana, ia ditempa secara karakter. Sebagai mantan Ketua Angkatan Batch 13, ia memahami bahwa dunia kerja membutuhkan lebih dari sekadar sertifikat.

“Saya berterima kasih telah dibekali ilmu, tak hanya dengan skill teknik, tapi juga mental dan sikap. Kesemuanya itu membuat saya bisa bertahan sampai saat ini,” ujarnya mantap.

Baginya, merantau adalah sekolah kehidupan. Meski harus mengorbankan masa muda dan jauh dari keluarga, Naftali melihat pekerjaannya saat ini sebagai “batu loncatan”. Ia memiliki visi besar: mengumpulkan pengalaman sebanyak mungkin untuk kemudian hari kembali ke tanah kelahiran dan bekerja di LNG Tangguh, Teluk Bintuni.

Naftali adalah representasi pemuda yang tidak cepat puas. Ia bahkan memendam hasrat untuk menjajal kemampuan di kancah internasional jika kesempatan itu datang.

“Sebagai laki-laki kita harus berani merantau mengubah nasib dan mengangkat derajat keluarga,” tegasnya. “Kurang enaknya kerja itu tidak ada, karena saya tahu hidup tidak selalu enak dan kita harus berkorban untuk apa yang kita mau.”

Menutup ceritanya, Naftali menitipkan pesan emosional bagi adik-adiknya di Teluk Bintuni. Menurutnya, pusat pelatihan seperti P2TIM bukan sekadar “pabrik” pencari kerja, melainkan tempat transformasi pola pikir.

Ia berharap semakin banyak anak muda Bintuni yang berani keluar dari zona nyaman untuk menemukan potensi diri. Dengan rasa bangga yang mendalam terhadap tanah kelahirannya, Naftali mengakhiri kisahnya dengan sebuah ungkapan kasih:

“Sa cinta kali kabur sisar matiti.”

Sebuah janji setia bagi tanah Bintuni, meski raga kini tengah menempa masa depan di negeri orang. (*)

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 8 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

BP Tangguh Ubah Material Rumah di Tengah Jalan, Tokoh Sebyar: Kami Tolak

4 Mei 2026 - 06:22 WIB

Ketum JMSI: Media Siber Punya Tanggung Jawab Besar Mengedukasi Publik

3 Mei 2026 - 11:34 WIB

YLBH Sisar Matiti Kritik BP Tangguh dan Genting Oil: Jangan Hanya Eksploitasi, Petani Lokal Butuh Keadilan Ekonomi

29 April 2026 - 21:59 WIB

Selaras dengan Harapan Alfons Manibui, Genting Oil Perkuat Komitmen Pemberdayaan Petani Lokal Bintuni

29 April 2026 - 21:57 WIB

Wartawan Didorong Kawal Akses Pasar Petani ke Perusahaan Raksasa di Bintuni

29 April 2026 - 07:02 WIB

BPH Migas Perketat Pengawasan BBM Subsidi di Teluk Bintuni

29 April 2026 - 06:03 WIB

Trending di Nasional
error: Content is protected !!