Menu

Mode Gelap

Ekonomi dan Bisnis · 15 Apr 2026 20:13 WIB ·

Jejak Solar Subsidi: Dari Manokwari ke Bintuni, Dijual Hingga Empat Kali Lipat


 Direktur YLBH Sisar Matiti, Yohannes Akwan, saat berada di salah satu SPBU di Papua Barat memantau antrean. Foto Dok Perbesar

Direktur YLBH Sisar Matiti, Yohannes Akwan, saat berada di salah satu SPBU di Papua Barat memantau antrean. Foto Dok

MANOKWARI, mangrove.id| Kelangkaan solar di Manokwari, Papua Barat bukan sekadar persoalan distribusi biasa.

Di balik antrean panjang dan pasokan yang terbatas, terendus dugaan praktik penyelewengan yang melibatkan rantai distribusi tidak resmi hingga ke tangan pengecer ilegal.

Hasil penelusuran berdasarkan keterangan sejumlah informan mengungkap pola yang berulang: solar subsidi diduga dibeli dalam jumlah besar di Manokwari, kemudian diangkut menggunakan kendaraan tertentu menuju Bintuni.

Setibanya di sana, bahan bakar tersebut tidak masuk ke jalur resmi, melainkan didistribusikan kepada pengecer yang beroperasi bebas di sepanjang jalan.

Di tangan para pengecer ini, solar subsidi yang seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat, dijual kembali dengan harga mencapai Rp 12.000 per liter—sekitar empat kali lipat dari harga yang ditetapkan pemerintah.

Praktik ini tidak hanya memicu kelangkaan di daerah asal, tetapi juga membuka ruang bagi keuntungan besar bagi oknum tertentu.

Direktur Eksekutif YLBH Sisar Matiti, Yohannes Akwan, menilai kondisi ini sebagai bentuk kegagalan pengawasan distribusi energi bersubsidi.

Ia mendesak Komisi XII DPR RI untuk segera turun tangan.

“Ini bukan sekadar pelanggaran kecil. Ada indikasi permainan dalam distribusi solar subsidi. Komisi XII DPR RI harus memanggil pihak Pertamina untuk menjelaskan bagaimana ini bisa terjadi,” tegasnya.

Menurutnya, lemahnya pengawasan memungkinkan solar subsidi keluar dari jalur distribusi resmi dan berakhir di pasar gelap.

Jika tidak segera ditindak, praktik ini berpotensi terus meluas dan semakin membebani masyarakat, khususnya di Papua Barat.

Selain meminta evaluasi menyeluruh, pihaknya juga mendorong penambahan kuota solar subsidi.

Namun, ia menegaskan bahwa peningkatan kuota tanpa pengawasan ketat justru berisiko memperbesar kebocoran.

Investigasi ini mengarah pada dugaan adanya jaringan distribusi ilegal yang memanfaatkan celah dalam sistem pengawasan.

Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari pihak terkait mengenai alur distribusi solar yang diduga menyimpang tersebut.

Jika praktik ini terus dibiarkan, masyarakat bukan hanya menghadapi kelangkaan, tetapi juga menjadi korban dari permainan harga yang tidak terkendali. (rls)

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 118 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

LMA Sebyar Sebut Alasan BP Ganti Konstruksi Kayu ke Baja Ringan Tidak Mendasar

18 Mei 2026 - 11:33 WIB

Ketua LMA Sebyar, Yohanis Bauw

UML Kota Sorong Uji Tera Mesin Pompa BBM di Bintuni

4 Mei 2026 - 17:38 WIB

Dihadapan Bupati, Pihak SPBU Tisay Keluhkan Pengajuan Penambahan Kuota yang Tidak Dijawab

22 April 2026 - 21:31 WIB

Pemda Temukan Ada Praktik ‘Aji Mumpung’ Saat Sidak di Pasar

22 April 2026 - 21:29 WIB

Solusi Papua Barat Menuju Kemandirian Ditengah Ketergantungan Fiskal

21 April 2026 - 06:24 WIB

Wacanakan Bisnis Sampah Plastik, Perusda Targetkan ‘Cuan’ Sekaligus Edukasi Lingkungan

20 Februari 2026 - 09:10 WIB

Trending di Ekonomi dan Bisnis
error: Content is protected !!