Teluk Bintuni, mangrove.id | Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Sebyar di Bintuni, menyebut alasan pihak BP. Tangguh mengganti konstruksi kayu ke baja ringan terhadap ratusan rumah bantuan di Distrik Weriagar, Tomu dan Distrik Taroi hanyalah alasan yang tidak mendasar. Pasalnya, ketersediaan kayu di Kabupaten Teluk Bintuni cukup melimpah.
Wakil Ketua I LMA Sebyar, Yohanis Bauw menyebut, kesekapatan awal bersama masayarakat adalah pembangunan rumah dengan konstruksi kayu. Kesepakatran itu tentunya sudah melalui proses panjang termasuk perencanaan yang mana pastinya telah dihitung biaya yang dibutuhkan dan juga ketersediaan bahan bangunan rumah.
“Kalau konstruksinya diganti dengan baja ringan dengan alasan ketersediaan kayu yang minim. Menurut kami itu asal asalan saja. Bahasa kayu tidak ada di Bintuni itu harus bisa dibuktikan oleh pihak BP,” tegasnya, Senin (18/5/2026) siang tadi.
Sebab menurutnya, ketersediaan kayu di Bintuni itu cukup melimpah. Kalau nyatanya kayu ada, berarti alasan pihak BP tidak bisa diterima. Sebab, persoalan kayu itu ada di perizinan dan juga koordinasi para pihak.
“Kayu tidak mungkin tidak ada. Justru yang tidak ada itu niat baik mereka sehingga mengatakan kayu tidak ada. Mereka sampaikan kepada masyarakat secara sepihak. Sementara kayu itu ada,” tuturnya.
Pemerintah kata dia memiliki kewajiban terkait itu karena kebutuhan kayu yang dimaksud adalah untuk mendukung pembangunan rumah yang penerimanya adalah masyarakat.
“Kita sebagai LMA bisa membantu komunikasikan dengan pihak pemerintah dalam hal ini pihak Kabupaten, Provinsi dan Kementerian kehutanan dan juga LMA yang lain selaku pemilik hak ulayat. Ini solusi yang bisa kita jalankan,” tandasnya. (len)
































Hari ini : 275
Kemarin : 847
Total Kunjungan : 214106
Hits Hari ini : 407
Who's Online : 4