TELUK BINTUNI, Mangrove.id| Klasis GKI Teluk Bintuni meminta Pemkab Teluk Bintuni untuk memperhatikan kondisi pendidikan di wilayah Moskona, khususnya di kampung Meriyep distrik Merdey.
Sekolah dasar di sana, sejak beberapa bulan terakhir ini mengalami krisis tenaga guru. Selain guru, ruang kelas yang bisa digunakan saat ini, hanya terdapat dua ruangan saja.
Perkembangan pendidikan di kampung Meriyep itu, didapat dari laporan pelayanan oleh Calon Pelayan/Pendeta (Capel) GKI di Tanah Papua yang ditempatkan di Jemaat GKI Imanuel Meriyep, Klasis Teluk Bintuni.

Sekretaris Klasis GKI Teluk Bintuni, Pdt. Yohanis Lanta, S.Si
Sekretaris Klasis GKI Teluk Bintuni, Pdt. Johanis Lanta, S.Si (Teol) kepada wartawan, menyatakan, situasi dan kondisi yang terjadi di SD Inpres Meriyep, tidak bisa dibiarkan.
Oleh sebab itu, GKI di Tanah Papua melalui Capel yang bertugas di jemaat, wajib untuk membantu.
“Melihat situasi dan kondisi seperti itu, suka tidak suka, Capel harus ikut membantu. Apalagi, sesuai laporan, hanya ada satu guru yang aktif di sekolah itu,” ujar Pdt. Lanta, Jumat (1/8).
Terkait sumbangsih Capel tersebut, Pdt. Lanta menjelaskan, sudah menjadi kewajiban para pelayan GKI, ketika melayani di jemaat. Bukan saja di Klasis Teluk Bintuni, namun di seluruh Tanah Papua, para pelayan baik Pendeta, Guru Jemaat dan Guru Injil pasti akan turun tangan, saat umat harus ditolong.
“Sebenarnya, apa yang dilakukan capel ini bukanlah hal baru dalam GKI di Tanah Papua. Karena semua hamba TUHAN yang diutus ke tengah-tengah jemaat, wajib menjadi penolong,” ujarnya.
Apa yang dilakukan Capel di Meriyep, Pdt. Lanta menegaskan, telah menjadi bukti nyata bahwa Gereja dan Pemerintah adalah mitra yang saling menopang dalam pembangunan.
Khususnya, dalam rangka mewujudkan visi Bupati Teluk Bintuni, Yohanis Manibuy tentang generasi emas Sisar Matiti di masa mendatang, GKI di Tanah Papua akan terus mendukung.
“Seperti yang sudah dilakukan Capel kami, itu menjadi bukti kontribusi gereja. Entah itu di kota, bahkan pelosok terisolir sekalipun, gereja akan terus hadir untuk melayani,” ucapnya.
“Tugas seorang pelayan itu bukan hanya tentang mengajarkan firman TUHAN saja, tapi di semua bidang pelayanan. Dan menjadi seorang guru, juga bagian dari pelayanan,” pungkas Pdt. Lanta.
Perlu diketahui, Capel GKI di Tanah Papua yang bertugas di Jemaat Imanuel Meriyep, bernama Zeth Tetelepta, S.Si (Teol), sejak April 2025 telah ikut membantu mengajar di sekolah tersebut.
Dengan kondisi ruang kelas yang terbatas, ia membagi waktu mengajar menjadi dua sesi, pagi dan siang. Sesi pertama atau pagi, diikuti murid dari kelas 1 hingga 4. Dan sesi siangnya, diikuti murid kelas 5 dan 6.
Tidak hanya menjadi guru, Capel jebolan Sekolah Tinggi Filsafat Teologi GKI Izaak Samuel Kijne, Jayapura ini, terkadang menjadi pembantu paramedis, untuk mengambil obat-obatan di fasilitas kesehatan terdekat.

Bahkan, ia bersama beberapa warga jemaat harus menempuh jarak beberapa kilometer dengan berjalan kaki, hanya untuk mengambil obat-obatan yang dibutuhkan. (len)


































Hari ini : 396
Kemarin : 375
Total Kunjungan : 164279
Hits Hari ini : 1092
Who's Online : 7