TELUK BINTUNI, mangrove.id| Dinas Kesehatan Kabupaten Teluk Bintuni membentuk tim pengendali khusus untuk memantau dan memitigasi dampak kesehatan masyarakat akibat kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah pesisir.
Langkah ini diambil mengingat daerah pesisir seperti Weriagar, Taroi, Kamundan, Aranday, Tomu hingga Tofoi kerap mengalami peningkatan kasus diare setiap kali musim kemarau tiba.
Tim pengendali yang ditempatkan di daerah terdampak wajib melaporkan perkembangan kondisi kesehatan masyarakat secara rutin setiap hari melalui grup pemantauan.
Laporan harian tersebut mencakup data jumlah pasien, baik yang mengalami diare akibat kekeringan, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), faringitis, maupun iritasi mata yang dipicu oleh asap karhutla.
“Selain data pasien, ketersediaan stok obat-obatan dan kebutuhan oksigen di lapangan juga kami pantau secara ketat agar penanganan dan distribusi bantuan dapat segera direspons,” jelas Plt. Kepala Dinas Kesehatan Teluk Bintuni, dr. Johannes D. Risamasu, Sp.PK, M.Kes melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Irma Said, SKM, M.Kes yang dikonfirmasi wartawan, Rabu (23/9/2026).
Ia menambahkan, Seluruh data yang terhimpun dari para dokter di lapangan selanjutnya diteruskan secara berkala untuk koordinasi lintas sektor.
“Berdasarkan laporan harian terbaru, grafik kasus penyakit yang berkaitan dengan kekeringan dan karhutla di daerah-daerah tersebut tercatat mengalami penurunan signifikan dibandingkan pada awal kejadian,” singkatnya. (len)

























Hari ini : 709
Kemarin : 1090
Total Kunjungan : 30061
Hits Hari ini : 1380
Who's Online : 6