Oleh: Muksin Inai, S.Kom., M.Sos
Anggota FKUB Kabupaten Teluk Bintuni
Di banyak dapur masyarakat Papua Barat, tungku tidak pernah berdiri di atas satu batu. Ia selalu ditopang oleh tiga batu yang kokoh dan seimbang. Jika satu batu bergeser atau runtuh, periuk akan miring dan api yang seharusnya menghangatkan kehidupan tidak lagi dapat menjalankan fungsinya.
Filosofi sederhana ini dikenal luas sebagai Satu Tungku Tiga Batu. Bagi masyarakat adat Papua Barat, tiga batu tersebut bukan sekadar penyangga masakan, melainkan simbol kehidupan bersama yang harmonis. Ia menggambarkan bagaimana umat Islam, Katolik, dan Protestan hidup berdampingan dalam satu keluarga, satu marga, bahkan satu kampung.
Yang menarik, kerukunan semacam ini tidak lahir dari ruang seminar, slogan pemerintah, ataupun kampanye toleransi yang sesekali digaungkan. Kerukunan tumbuh secara alami dari ikatan kekerabatan, hubungan darah, serta tradisi kawin-mawin yang telah berlangsung turun-temurun.
Tidak jarang seorang ayah menunaikan salat di masjid, saudaranya beribadah di gereja Protestan, sementara keponakannya mengikuti misa di gereja Katolik. Namun ketika ada pesta adat, pernikahan, syukuran, atau duka keluarga, mereka tetap duduk bersama di meja yang sama, saling membantu dan saling menguatkan.
Di titik inilah adat memainkan peran penting sebagai payung bersama yang telah lebih dahulu hadir sebelum agama-agama besar datang ke tanah Papua. Adat tidak menghapus keyakinan seseorang, melainkan menjaga agar perbedaan keyakinan tidak memutuskan tali persaudaraan.
Kita sering terjebak pada anggapan bahwa agama dan budaya lokal merupakan dua kutub yang saling berhadapan. Pengalaman masyarakat Papua Barat justru menunjukkan hal yang berbeda. Adat tidak menggantikan iman, tetapi menyediakan ruang dan bahasa kekerabatan yang memungkinkan keberagaman hidup dalam keharmonisan.
Dalam perspektif sosiologi agama, kondisi ini dapat dipahami sebagai bentuk modal sosial yang kuat. Ikatan adat menciptakan rasa saling percaya, mempererat solidaritas, sekaligus menjadi jembatan yang menghubungkan kelompok-kelompok yang berbeda. Modal sosial inilah yang selama ini menjadi fondasi kokoh bagi kerukunan masyarakat Papua Barat.
Namun demikian, nilai luhur tersebut tidak boleh dianggap akan bertahan dengan sendirinya. Arus migrasi, menguatnya politik identitas, serta berbagai sentimen yang menyebar melalui media sosial dapat perlahan mengikis makna simbolis tiga batu penyangga itu. Jika tidak dirawat, ruang kebersamaan yang selama ini terbangun dapat mengalami keretakan.
Karena itu, menjaga tradisi tidak cukup hanya dengan memujinya dalam pidato atau menjadikannya slogan dalam acara seremonial. Nilai-nilai tersebut harus diwariskan melalui cerita para orang tua, diperkenalkan dalam dunia pendidikan, dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, serta dihormati dalam setiap kebijakan pembangunan daerah.
Sebab toleransi yang paling kokoh bukanlah toleransi yang dipaksakan dari atas, melainkan toleransi yang tumbuh, hidup, dan diwariskan dari dalam keluarga.
Jika tiga batu mampu menopang satu tungku, maka kita pun seharusnya mampu menopang satu bangsa. Dari Teluk Bintuni, Papua Barat, kita belajar bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk tetap berdiri bersama dalam rumah Indonesia yang bhineka. (*)






























Hari ini : 714
Kemarin : 1113
Total Kunjungan : 40677
Hits Hari ini : 1443
Who's Online : 2