Di sudut gereja yang riuh oleh pujian, seorang anak berdiri dengan genggaman tangan yang erat. Bukan mainan, bukan pula jajanan. Di dalam genggamannya, ada sebuah amplop. Itu sebuah persembahan sukarela yang ia siapkan dari rumah. Sebuah persembahan untuk sahabat-sahabat tuli yang belum pernah ia jumpai.
Oleh: Valentino Wanma
MOMEN itu terjadi di sela ibadah akhir bulan di Jemaat GKI Ebenhaezer Sigerau, Bintuni, Rabu, 30 September 2026. Seusai kantong persembahan diedarkan, anak itu melangkah maju dengan gembira. Ia lalu menaruh amplop itu ke dalam kotak yang disiapkan di depan.
Bagi jemaat yang menyaksikan, tindakan itu mungkin tampak biasa. Namun di baliknya, tersirat suatu pesan tentang iman yang tumbuh dari hal-hal kecil.
Dorongan bagi anak itu, ketika mendengar cerita dari kakak pengasuh Sekolah Minggu tentang sahabat-sahabat tuli yang belum pernah membaca Alkitab dalam bahasa yang mereka pahami. Sesuatu yang sulit diakses oleh sahabat tuli, karena bagi mereka bahasa isyarat adalah bahasa ibu yang paling mereka pahami.
Apa yang dilakukan anak ini bukan sekadar memberi. Ia adalah cermin bagaimana iman yang sejati selalu berbuah dalam tindakan nyata. Dalam Markus 12:41-44, Yesus memuji persembahan seorang janda miskin yang memberi dua peser, bukan karena jumlahnya besar, melainkan karena ia memberi dari kekurangannya.
Pendeta di gereja tersebut menyampaikan bahwa persembahan anak itu akan disalurkan lengsung ke rekening Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) untuk mendukung penerjemahan Alkitab Bahasa Isyarat bagi sahabat tuli. “Ini bukan tentang nominal. Ini tentang hati,” ujarnya. “Seorang anak telah mengajarkan kita arti memberi dengan tulus.”
Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, kepedulian terhadap sesama menjadi nilai yang kian langka. Namun anak ini menunjukkan bahwa generasi penerus bangsa diatas Tanah Papua masih memiliki harapan. Ia tidak hanya peduli pada dunianya sendiri, tetapi juga pada mereka yang sering terlupakan. Kaum tuli yang merindukan Firman Tuhan dalam bahasa mereka sendiri.
Kisah ini mengingatkan kita pada beberapa pesan moral yang mendalam bahwa iman tidak diukur dari usia. Seorang anak dapat menjadi teladan bagi orang dewasa dalam hal memberi dan peduli. Yesus sendiri berkata, “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah” (Markus 10:14).
Sejatinya memberi bukan tentang jumlah, melainkan tentang ketulusan. Seperti dua peser janda miskin, justru lebih berharga di mata Tuhan daripada sekantong uang dari orang kaya yang memberi dengan kesombongan.
Anak ini tengah mewarisi sebuah keteladan, seorang Kristen yang dipanggil untuk menjadi berkat bagi sesama, terutama mereka yang sering terabaikan. Sahabat-sahabat tuli adalah bagian dari tubuh Kristus. Mereka juga rindu mendengar Firman Tuhan dalam bahasa yang menyentuh jiwa mereka.
Sebagai generasi penerus bangsa, anak-anak perlu dididik untuk memiliki kepedulian dan iman yang berakar. Mereka bukan hanya pewaris masa depan yang diberi beban mengejar pengetahuan teknologi, tetapi juga pelaku kasih Kristus hari ini, esok dan seterusnya.
Sampai hari ini, kebutuhan dana LAI untuk menerjemahkan isi Alkitab ke dalam bahasa isyarat tentu masih jauh dari cukup. Namun persembahan anak ini telah menjadi benih yang ditabur. Benih itu mungkin kecil, tetapi ia memiliki potensi untuk tumbuh menjadi pohon yang besar dan menjadi berkat bagi ribuan sahabat tuli di seluruh Indonesia.
Di dalam genggaman tangan kecilnya, tersimpan bukan hanya selembar uang, tetapi juga sepotong harapan. Harapan bahwa suatu hari nanti, sahabat-sahabat tuli dapat menyaksikan Firman Tuhan dengan mata mereka sendiri, merasakannya melalui gerakan tangan yang penuh makna, dan mengenal kasih Kristus yang tidak mengenal batas bahasa.
Kisah ini adalah panggilan bagi kita semua. Mari menjadi bagian dari gerakan kasih ini. Dukunglah penerjemahan Alkitab Bahasa Isyarat melalui doa, perhatian, dan donasi. Sebab sebagaimana seorang anak kecil telah menunjukkan, memberi bukanlah tentang seberapa besar yang kita miliki, melainkan tentang seberapa tulus hati kita.
“Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40). (*)
























Hari ini : 659
Kemarin : 678
Total Kunjungan : 24880
Hits Hari ini : 1902
Who's Online : 10