TELUK BINTUNI, mangrove.id| Kampung Masina di Kabupaten Teluk Bintuni resmi ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia sebagai salah satu dari 23 Kampung Mandiri Peduli Mangrove di seluruh Indonesia.
Penetapan ini sebagai respons pusat atas usulan Yayasan Lestari Suara Alam (YLSA) untuk mendorong pelestarian lingkungan sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.
Pembina YLSA sekaligus Ketua Kelompok Desa Mandiri Peduli Mangrove (DMPM) Naisowera Masina, Dr. Ir. Petrus Kasihiw, MT menjelaskan bahwa melalui program ini, Kampung Masina menerima dukungan dana stimulan sebesar Rp100 juta dari pemerintah pusat.
Dana tersebut dialokasikan untuk penanaman 5.000 bibit mangrove dari berbagai jenis serta renovasi fasilitas lokal di kampung tersebut.
“Hasil penanaman bibit mangrove ini tidak hanya untuk penghijauan, tetapi juga dapat bernilai ekonomi bagi kelompok. Bibit yang dibudidayakan bisa dijual untuk mendukung kegiatan reboisasi di wilayah lain,” ujar pria yang akrab dengan sapaan Pit Kasihiw.
Dengan potensi hutan mangrove Teluk Bintuni yang merupakan salah satu yang terbesar dan memiliki vegetasi terlengkap di dunia, Kampung Masina diproyeksikan menjadi etalase utama ekowisata mangrove di Papua Barat.
Selain pengembangan wisata alam, ia juga mengemukakan, pihaknya merancang kawasan Masina sebagai pusat edukasi dan penelitian.
Dimana, gedung pusat informasi Mangrove yang telah berdiri, bakal difungsikan sebagai laboratorium kecil dan perpustakaan ekosistem Mangrove.
“Tempat tersebut akan menampilkan foto, informasi spesimen, serta keanekaragaman hayati dan biota laut Teluk Bintuni yang berkembang biak di bawah Mangrove, guna sarana belajar siswa maupun para peneliti,” jelasnya.
Ke depan, ia menambahkan, YLSA dan DMPM Naisowera Masina juga berencana menginisiasi pendirian sekolah alam serta mendorong digelarnya Festival Mangrove Teluk Bintuni melalui kolaborasi bersama Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni dan Pemerintah Provinsi Papua Barat.
Untuk mendukung kesiapan Kampung Masina sebagai destinasi wisata dan kawasan edukasi yang terintegrasi, pihaknya berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah daerah terkait pemenuhan infrastruktur dasar.
Beberapa kebutuhan utama yang diharapkan dapat ditingkatkan antara lain: akses air bersih, penerangan jalan kampung, jaringan internet gratis, pendukung moda transportasi laut serta penyediaan fasilitas penunjang lainnya bagi kebutuhan warga dan wisatawan yang datang ke Masina. (len)




























Hari ini : 597
Kemarin : 929
Total Kunjungan : 21102
Hits Hari ini : 1366
Who's Online : 4