MANOKWARI, mangrove.id| Wakil Ketua II DPRP Papua Barat, Syamsudin Seknun, S.Sos, SH, MH, mengungkapkan adanya ketidakseimbangan serius antara jumlah siswa dan fasilitas pendukung di SMK Taruna Kasuari Nusantara, Manokwari.

Hal ini terungkap dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang menghadirkan pihak sekolah dan Dinas Pendidikan Provinsi Papua Barat yang berlangsung di Manokwari, Jumat (24/4/2026).
Berdasarkan data yang dihimpun, sekolah tersebut mengalami lonjakan penerimaan siswa yang melebihi standard operasional prosedur (SOP) selama dua tahun terakhir.
Ia menjelaskan bahwa sesuai SOP, standard seleksi siswa seharusnya maksimal 100 orang, yang kemudian disaring kembali menjadi 80 orang menyesuaikan kapasitas ruangan.
Namun, realita di lapangan menunjukkan angka yang kontras. Contoh, di tahun 2023 penerimaan siswa bisa membengkak hingga 160 siswa, sedangkan di tahun 2024, mencapai 130 siswa.
“Ini artinya kapasitas ruangan dengan skema standard yang ada di sekolah sudah tidak sesuai lagi,” ujar pria yang akrab disapa Sase saat memberi keterangan pers usai RDP.
Kondisi ini berdampak langsung pada fasilitas asrama, di mana satu kamar yang idealnya diisi empat orang, kini harus menampung hingga delapan orang.
Ketidakseimbangan ini tidak hanya terjadi pada fasilitas fisik, tetapi juga pada rasio tenaga pengajar. Oleh karena itu, Sase menilai, situasi ini dapat mengganggu kondisi psikologis siswa dan kualitas penyelenggaraan pendidikan secara keseluruhan.
“Bayangkan satu kamar diisi delapan orang, itu sangat tidak layak dari sisi standard pendidikan berpola asrama,” tegasnya.
Menyikapi temuan tersebut, Sase mengungkap, DPRP Papua Barat telah menyepakati beberapa poin strategis bersama Dinas Pendidikan.
Diantaranya, Dinas Pendidikan telah diminta segera merealisasikan pembangunan fasilitas SMK Kasuari Nusantara di Warmare, dengan target sudah beroperasi pada 2027 mendatang.
Selain itu, DPRP juga meminta Dinas Pendidikan melakukan evaluasi dan penambahan tenaga pengajar serta pengawas agar rasio guru dan murid kembali seimbang.
“Siswa ini sudah ada, tidak mungkin kita kurangi atau suruh berhenti. Solusinya adalah dinas harus mengevaluasi kebutuhan tambahan tenaga pengajar dan mempercepat fasilitas fisik agar persoalan ini terjawab,” pungkas Sase. (len)
































Hari ini : 421
Kemarin : 863
Total Kunjungan : 194599
Hits Hari ini : 1742
Who's Online : 5