Menu ✖

Mode Gelap

Pemerintahan · 8 Nov 2026 10:40 WIB ·

Melintasi Teluk Doreri, Merawat Sejarah, Menguatkan Arti Sebuah Pelayanan


 Melintasi Teluk Doreri, Merawat Sejarah, Menguatkan Arti Sebuah Pelayanan Perbesar

Oleh: Valentino Wanma

PAGI itu, langit di atas Teluk Doreri tampak cerah ketika deru mesin perahu kecil mulai terdengar dari Dermaga Kwawi, Manokwari. Air laut yang tenang memantulkan cahaya mentari pagi, seolah menyambut langkah puluhan orang yang akan menyeberang ke Pulau Mansinam.

Mereka bukan pelancong biasa. Rombongan itu adalah pimpinan dan staf Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Papua Barat, yang datang bukan untuk berwisata, melainkan untuk membersihkan area situs bersejarah di pulau kecil yang menjadi saksi masuknya Injil ke Tanah Papua.

Perjalanan menuju Pulau Mansinam memang tak memakan waktu lama. Sekitar 10 hingga 15 menit dengan perahu motor. Namun, bagi rombongan ini, lintasan singkat itu menjelma menjadi ruang refleksi. Di atas perahu yang bergoyang pelan mengikuti ombak, Kepala Kesbangpol Papua Barat, Rheinhard Calvin Maniagasi, tampak duduk berdampingan dengan staf-stafnya.

Tidak ada sekat jabatan. Tidak ada jarak antara atasan dan bawahan. Yang ada hanyalah kebersamaan, seolah teluk yang memisahkan Manokwari dan Mansinam justru menjadi jembatan yang menyatukan mereka.

Setibanya di pulau, rombongan langsung bergerak menyusuri area situs. Pulau Mansinam bukanlah pulau biasa. Di sinilah, pada 5 Februari 1855, dua misionaris asal Jerman, Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler, pertama kali menginjakkan kaki dan menyebarkan Injil di Tanah Papua.

Kini, pulau itu menyimpan sejumlah jejak sejarah: tugu salib, bekas gereja, bekas sekolah, sumur tua, hingga Museum Mansinam yang menyimpan artefak dan dokumentasi perjalanan penyebaran Injil. Pemerintah Republik Indonesia bahkan telah menetapkannya sebagai situs bersejarah nasional, diresmikan langsung oleh Presiden ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono, pada 24 Agustus 2014.

Dengan peralatan sederhana: sapu lidi, karung sampah, dan mesin babat, para pimpinan dan staf bahu-membahu membersihkan rumput liar, mengumpulkan dedaunan kering, dan merapikan area sekitar tugu peringatan. Ada yang sibuk memangkas semak, ada pula yang memungut sampah plastik yang tersangkut di bebatuan.

Tawa kecil sesekali terdengar ketika seorang staf kesulitan mencabut akar ilalang, lalu rekannya datang membantu. Pemandangan itu sederhana, tetapi sarat makna. Di tengah kesibukan mereka sehari-hari sebagai aparatur negara, pagi itu mereka menjadi manusia biasa yang bekerja dengan tangan, keringat, dan hati.

Bagi masyarakat yang menyaksikan, pemandangan tersebut bukan sekadar aksi bersih-bersih. Ia adalah cermin tentang bagaimana sebuah institusi pemerintah seharusnya hadir di tengah masyarakat. Kesbangpol Papua Barat, yang selama ini dikenal sebagai lembaga yang mengurusi persatuan dan kesatuan bangsa, politik, serta pelayanan publik, menunjukkan bahwa kerja-kerja kebangsaan tidak melulu berhenti di ruang rapat atau dokumen kebijakan. Ia bisa hadir dalam bentuk yang paling sederhana. Turun ke lapangan, merawat warisan sejarah, dan menyapa masyarakat dengan tindakan nyata.

Kepala Kesbangpol Papua Barat, Reinhard Calvin Maniagasi, dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya semangat kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat Papua Barat. Menurutnya, kemajemukan sosial, kultur, dan agama di provinsi ini justru menjadi modal penting dalam menjaga persatuan serta mendukung pelaksanaan pembangunan dan pelayanan publik.

Apa yang dilakukan rombongannya di Pulau Mansinam adalah wujud konkret dari prinsip itu. Sebab, kebersamaan tidak cukup hanya diucapkan dalam sambutan. Ia harus dipraktikkan, termasuk dalam hal-hal yang tampak kecil seperti membersihkan situs bersejarah.

Lebih dari itu, kegiatan ini memberikan inspirasi bagi banyak pihak. Di tengah kabar tentang aparatur negara yang kerap dituding bekerja sendiri-sendiri atau terjebak dalam sekat birokrasi, pemandangan pimpinan dan staf yang bekerja berdampingan menjadi oase.

Ia mengingatkan bahwa kekompakan bukanlah sesuatu yang tumbuh dengan sendirinya, melainkan dibangun melalui kebersamaan yang terus dirawat, seperti rumput di area situs yang harus rutin dipangkas agar tidak menutupi jalan.

Namun, narasi tentang kebersamaan ini bukanlah tanpa kaitan dengan tugas pokok Aparatur Sipil Negara (ASN). Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara secara tegas menyebutkan bahwa fungsi ASN adalah sebagai pelaksana kebijakan publik, pelayan publik, serta perekat dan pemersatu bangsa. Ketiga fungsi itu bukanlah tiga hal yang terpisah, melainkan satu kesatuan yang saling menguatkan. Dan justru di situlah letak relevansi kegiatan bakti sosial di Pulau Mansinam.

Pertama, sebagai pelaksana kebijakan publik, ASN dituntut mampu menerjemahkan kebijakan pemerintah ke dalam tindakan yang berdampak langsung bagi masyarakat. Kebijakan tentang pelestarian situs bersejarah, misalnya, tidak akan bermakna jika hanya tertulis di atas kertas. Kehadiran Kesbangpol Papua Barat di Mansinam adalah bentuk pelaksanaan kebijakan itu di tingkat paling operasional. Merawat fisik situs agar tetap layak dikunjungi, sekaligus menjaga nilai sejarahnya tetap hidup di tengah masyarakat.

Kedua, sebagai pelayan publik, ASN harus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat secara cepat, tepat, transparan, dan akuntabel. Pelayanan publik tidak selalu berarti pelayanan administrasi di kantor. Membersihkan situs bersejarah adalah bentuk pelayanan kepada masyarakat luas, para peziarah, wisatawan, dan generasi muda yang ingin belajar dari sejarah. Dengan menjaga kebersihan dan kerapian area situs, ASN sesungguhnya sedang memastikan bahwa ruang publik yang menjadi milik bersama tetap nyaman dan bermartabat.

Ketiga, sebagai perekat dan pemersatu bangsa, ASN memiliki peran strategis untuk menjaga persatuan di tengah keberagaman. Pulau Mansinam adalah simbol yang kuat dalam hal ini. Ia bukan hanya milik umat Kristen, tetapi telah menjadi bagian dari identitas kolektif bangsa, destinasi wisata religi yang dikunjungi orang dari berbagai latar belakang. Ketika pimpinan dan staf Kesbangpol yang datang dari berbagai latar belakang, bekerja bersama di sana, mereka sedang mempraktikkan nilai-nilai persatuan itu secara nyata. Mereka tidak hanya berbicara tentang toleransi dan kerukunan. Tetapi, mereka hadir di tengah masyarakat, menyentuh langsung objek sejarah, dan merawatnya bersama-sama.

Ada satu hal yang sering terlupakan dalam diskusi tentang pelayanan publik, bahwa kualitas pelayanan sangat bergantung pada kualitas kerja sama di dalam institusi itu sendiri. ASN yang tidak kompak, yang terjebak dalam ego sektoral dan sekat jabatan, mustahil dapat memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat.

Sebaliknya, ASN yang terbiasa bekerja sama, saling membantu, dan menghargai satu sama lain akan lebih mudah menghadirkan pelayanan yang cepat, responsif, dan manusiawi.

Kegiatan di Pulau Mansinam memberikan pelajaran berharga tentang hal itu. Ketika seorang pimpinan turun langsung memungut sampah bersama stafnya, ia tidak sedang merendahkan jabatannya. Ia sedang membangun kepercayaan. Ia sedang menunjukkan bahwa dalam bekerja untuk masyarakat, tidak ada tugas yang terlalu kecil atau terlalu hina. Sikap seperti inilah yang pada akhirnya akan menular ke ruang-ruang kerja lainnya. Di kantor, di lapangan, dan di mana pun ASN berhadapan dengan masyarakat.

Kembali ke perahu yang membawa rombongan kembali ke Manokwari menjelang siang. Matahari sudah tinggi, air teluk berkilau. Di atas perahu, wajah-wajah itu tampak lelah, tetapi puas. Mereka tidak membawa pulang upah atau penghargaan. Mereka membawa pulang sesuatu yang lebih berharga.

Kesadaran bahwa kebersamaan yang mereka rawat pagi itu adalah fondasi bagi pelayanan yang lebih baik di masa depan. Pulau Mansinam tetap berdiri megah dengan sejarahnya. Dan di bawah naungan sejarah itu, semangat kebersamaan ASN Papua Barat menemukan rumahnya, sebuah rumah yang tidak dibangun dari beton, melainkan dari keringat, kerja sama, dan cinta pada tempat mereka mengabdi. (*)

Artikel ini telah dibaca 47 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Bupati Apresiasi Niat BP Tangguh Serahkan Aset Perusahaan kepada Pemerintah Daerah

5 November 2026 - 08:14 WIB

Perjuangan Anisto Membangun Bintuni di Tengah Tantangan

1 November 2026 - 22:31 WIB

Dr. Elisa Kurube Gaungkan “Setiap Rumah Adalah Sekolah dan Setiap Orang Adalah Guru” di Rakor Pendidikan

18 Oktober 2026 - 14:26 WIB

Lantik Tiga Kepala Kampung, Bupati Anisto Ingatkan Soal Pengabdian

10 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Bupati Resmikan Rumah Singgah dan Ruang Kelas Baru di Yakati

9 Oktober 2026 - 20:34 WIB

Kunker Bupati Anisto ke Moyeba, Pemulihan Pendidikan Jadi Atensi Pemerintah

8 Oktober 2026 - 16:08 WIB

Trending di Pemerintahan
error: Content is protected !!