Di sebuah ruangan, berpasang-pasang mata kaku menatap sosok pria yang berada di balik mimbar. Mereka terpaku oleh suaranya yang tegas, penuh tekanan. Pria itu tidak sedang membacakan pidato tertulis, atau puisi. Tapi, ia sedang berbicara dari sesuatu yang jauh lebih dalam.
Oleh: Valentino Wanma
KALIMAT yang keluar dari mulutnya bukan sapaan, melainkan sebuah prinsip yang terdengar seperti bisikan dari medan perang. “Orang bilang begini, ‘bunuh satu, tumbuh seribu.’ Harus pakai prinsip begitu, di dalam dunia politik harus begitu. Bunuh satu, tumbuh seribu,” ucap pria yang tak lain adalah Wakil Bupati Teluk Bintuni, Joko Lingara.
Mendengar kalimat itu, semuanya terdiam. Beberapa orang tersenyum kecut. Yang lain menunduk, mencatat, atau sekadar merekam dalam ingatan. Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang menyela. Karena semua tahu, ini bukan sekadar retorika. Tapi ini merupakan sinyal kepada mereka yang tidak mau membangun daerahnya. Daerah di mana ia dan Bupati, Yohanis Manibuy mengikat janji kepada Tuhan.
Menyambung kalimatnya, Joko Lingara lalu berbicara tentang obat. Tentang penyakit. Tentang sesuatu yang kronis. “Lebih baik mencegah daripada mengobati,” katanya. Ia paham bahwa ketika penyakit sudah menggerogoti seluruh tubuh maka percuma, sia-sia.
Ia tidak sedang berbicara tentang penyakit secara harfiah. Ia sedang berbicara tentang negeri. Tentang sebuah kepercayaan dari masyarakat. Tentang sistem yang menurutnya, harus dijaga sebelum rusak, bukan diperbaiki setelah hancur.
“Bapak, Ibu bisa rekam saya punya kata-kata itu dengan baik,” pintanya. Sebuah permintaan yang sederhana, tetapi sarat makna. Ia ingin didengar. Ia ingin dipahami. Ia ingin kata-katanya tidak hilang begitu saja seperti asap yang memudar di udara.
“Yang benar kita bilang benar, yang salah kita bilang salah. Kita mau bangun negeri ini. Nanti orang di sana bilang Bupati dan Wakil Bupati tidak kerja baik. Jadi tunjukkan, bantu Bupati dan saya,” pintanya lagi.
Ia tidak sedang berbicara kepada bawahan. Ia sedang berbicara kepada sekutu. Kepada mereka yang mungkin masih ragu. Kepada mereka yang mungkin masih setengah hati. Terutama kepada mereka yang apatis terhadap kesejahteraan banyak jiwa. “Kita sepakat toh?” Pertanyaan itu sederhana. Tapi di dalamnya ada harapan, dan sedikit ancaman yang tersirat.
Ada satu bagian darinya yang paling menarik, dan mungkin paling misterius. Bagian itu memberi isyarat bahwa ia sangat memahami situasi di lapangan. “Kita sudah bisa tahu. Dari pukulan hati kita bisa tahu. Kalau saya agak-agak susah sedikit, minta maaf. Kita sama-sama belajar. Dari senyum, dari paksa senyum, dari jawaban dan lain sebagainya itu kita sudah bisa tahu. Orang belum tulis, kita sudah baca duluan,” paparnya.
Ini bukan sekadar klaim. Ini semacam kekuatan supranatural yang mengalir dalam darahnya. Ia membaca manusia bukan dari kata-kata, tetapi dari getaran, dari senyum yang dipaksakan, dari sebuah jawaban yang tidak jujur.
“Karena kita semua anak negeri di sini, kita tahu. Kita bisa tahu orang begitu, makanya dekat dengan Tuhan supaya Tuhan kasih petunjuk,” katanya.
Di sini, ia sedang memadukan politik dengan spiritualitas. Dimana, kepemimpinan bukan hanya soal kebijakan, tetapi soal kedekatan dengan Yang Maha Kuasa. Tuhan memberi petunjuk. Tuhan memberi kemampuan untuk membaca isi hati manusia.
Dan kemudian, datanglah bagian yang paling gelap dari pernyataannya. Sebuah pernyataan yang membuat semua orang dalam ruangan semakin tegang. “Ada manusia yang hadir berwujud setan. Dia duduk sebagai manusia tapi sesungguhnya dia adalah setan yang suka mengadu domba antara satu dengan yang lain,” ungkapnya.
Kalimat ini bukan sekadar metafora. Ini adalah peringatan. Sebuah cara untuk mengingatkan, di antara kita ada yang tidak benar-benar bersama kita. Ada yang duduk manis, tersenyum, tetapi menyimpan pisau di balik punggung.
Joko Lingara tidak menyebut nama. Tidak menunjuk, apalagi menuduh. Tetapi ia memberi kode. Ia memberi isyarat. Dan semua yang mendengar, mungkin saja mulai mencurigai satu sama lain.
Yang paling menarik dari semua pernyataan ini adalah bagian akhirnya. “Dari kau punya langkah kaki masuk ke sa punya ruangan, sampai dengan kau duduk bicara, sa bisa tahu manusia yang setengah hati, manusia yang benar-benar. Tapi cukup saya yang tahu, saya tidak akan kasih tahu untuk orang lain,” akunya.
Ia tahu. Ia selalu tahu. Tetapi ia tidak akan memberi tahu siapa pun. Ia menyimpan penilaian itu di dalam hatinya, seperti kartu yang tidak akan pernah dibuka. Ini adalah kekuatan sekaligus beban. Seorang pemimpin yang membaca manusia seperti buku terbuka, tetapi memilih untuk tetap bungkam.
Apakah ini bentuk kebijaksanaan? Atau bentuk kontrol? Apakah ia melindungi orang lain dari prasangka, atau ia menyimpan amunisi untuk digunakan di kemudian hari? Tidak ada yang tahu. Hanya ia dan Tuhan yang tahu.
Pernyataan Joko Lingara ini bukan sekadar mengisi sambutan. Ini adalah cermin budaya politik lokal di mana bahasa digunakan bukan hanya untuk menyampaikan informasi, tetapi untuk membangun wibawa, menjadi rambu-rambu dan mengikat loyalitas.
Ada metafora. Ada ancaman melalui tatapan tajam. Ada spiritualitas yang dicampur dengan kecurigaan, sebagai pengingat. Ada ajakan untuk bersatu dan membangun negeri, tetapi juga ada peringatan tentang pengkhianatan.
Di negeri ini, politik tidak dimainkan dengan data dan statistik. Politik dimainkan dengan perasaan, dengan intuisi, dengan pukulan hati. Dan seorang pemimpin yang baik adalah mereka yang bisa membaca manusia, bahkan sebelum manusia itu menuliskan niatnya.
“Orang belum tulis, kita sudah baca duluan,” (*)

























Hari ini : 438
Kemarin : 753
Total Kunjungan : 23192
Hits Hari ini : 850
Who's Online : 6