Menu

Mode Gelap

Info Tanah Papua · 23 Sep 2026 08:01 WIB ·

Family Gathering: Saat Para Pelayan GKI Menemukan Hati yang Pulih


 Family Gathering: Saat Para Pelayan GKI Menemukan Hati yang Pulih Perbesar

Oleh: Valentino Wanma

RERUMPUTAN hijau di halaman rumah Kel. Robert Parantean yang beralamat di SP 4 Manimeri, Kabupaten Teluk Bintuni masih dibasahi embun ketika tawa dan celoteh riang mulai memecah pada Selasa, 22 September 2026.

Hari itu, kesibukan pelayanan di Klasis GKI Teluk Bintuni seolah sejenak ditinggalkan di balik pintu rumah.

Para pendeta bersama anggota keluarga mereka melangkah bersama menuju satu ruang terbuka yang hangat. Bagi mereka yang saban hari mendedikasikan hidup untuk melayani jemaat, family gathering ini bukan sekadar agenda rekreasi, melainkan ruang perhentian tempat untuk bernapas, pulih, dan merajut kembali tali persaudaraan yang rukun.

​Sejak sesi pembukaan, aroma kekeluargaan begitu terasa. Tidak ada sekat jabatan atau formalitas pelayanan. Yang ada hanyalah sesama pendoa yang merindukan kebersamaan.

Langkah demi langkah acara dirancang bukan hanya untuk merayakan kebersamaan, tetapi untuk menuntun setiap hati mengalami perjumpaan yang mendalam dengan diri sendiri, sesama, dan Sang Pencipta.

​Salah satu materi utama yang menjadi fondasi berharga dalam kegiatan ini adalah pengenalan kepribadian melalui Enneagram Test. Dalam dinamika pelayanan, kesalahpahaman kerap timbul bukan karena ketiadaan kasih, melainkan karena ketidakpahaman atas cara pandang sesama pelayan.

​Melalui pemetaan Enneagram, para peserta diajak menyelami sembilan tipe kepribadian. Gelak tawa berulang kali pecah ketika para pelayan menyadari uniknya perbedaan mereka. Ada yang cenderung menjadi perfeksionis, penolong yang penuh empati, atau tipe penggerak yang berorientasi pada target.

Sesi ini membawa pencerahan mendalam. Para pelayan diajak menyadari bahwa perbedaan gaya berkomunikasi dan merespons masalah bukanlah hambatan, melainkan kekayaan yang Tuhan karuniakan untuk saling melengkapi dalam tubuh Kristus.

​Suasana berubah menjadi begitu hening ketika memasuki sesi Doa dengan Alam (Mindfulness). Menjauh dari kebisingan dan rutinitas yang melelahkan, para peserta diajak melangkah menyebarkan diri di bawah pepohonan rindang. Dalam hembusan angin sepoi-sepoi dan gemersik dedaunan, mereka belajar mempraktikkan kesadaran penuh akan kehadiran Tuhan.

​Dalam keheningan itu, napas ditarik dalam-dalam dan dihembuskan seolah melepas beban yang sangat berat. Setiap helai daun dan merdunya kicauan burung kecil menjadi pengingat betapa pemeliharaan Tuhan begitu nyata. Banyak mata terpaut pada pepohonan, menyadari betapa selama ini tubuh dan pikiran mereka kerap terlalu lelah bekerja hingga lupa untuk sekadar hadir utuh di hadapan Tuhan.

Sesi ini menjadi momen pemulihan diri yang sangat menyentuh, sebuah oase bagi jiwa-jiwa yang haus akan kesegaran rohani. Sebuah jiwa yang ingin lebih dekat dan membangun relasi intim bersama Tuhan.

​Kehangatan merangkak naik saat sesi Hearing bertajuk “Aku dalam Relasiku” digelar. Duduk melingkar bersama pasangan dan keluarga, ruang ini menjadi altar kejujuran yang menyejukkan. Disinilah para pelayan dan keluarga saling membuka hati, menyampaikan hal-hal yang mungkin selama ini terendapkan di tengah kesibukan melayani jemaat.

​Air mata haru tak terbendung ketika beberapa peserta mengungkapkan rasa terima kasih atas kesetiaan pasangan yang terus mendukung di masa-masa sulit. Ada juga yang tak kuasa menahan air mata, saat menyadari realita menjalani hidup sendiri, karena kehilangan sosok yang dicintai.

Sesi ini mempertegas kembali pesan moral mendalam, bahwa pelayanan terindah seorang pelayan Tuhan sebenarnya dimulai dari dalam rumah tangga sendiri. Relasi yang sehat di dalam keluarga adalah fondasi kokoh bagi pelayanan yang berdampak di tengah jemaat.

​Suasana haru saat hearing seketika mencair menjadi keceriaan saat games oper bola digelar. Permainan kelompok yang membutuhkan kerja sama tim, kepercayaan penuh, dan komunikasi ini memancing gelak tawa yang riuh. Para pelayan senior membaur tanpa jarak, saling menyemangati dan tertawa bersama.

Rangkaian kegiatan indah ini kemudian dimahkotai dalam sesi Komitmen Transformasi. Masing-masing peserta menuliskan komitmen di atas kertas yang ditaruh pada sebuah media yang disiapkan panitia. Komitmen itu, untuk saling menopang, memaafkan, dan memperbarui tekad dalam merawat persekutuan. Mereka berjanji untuk tidak hanya menjadi rekan dalam pelayanan, tetapi menjadi keluarga yang saling menjaga dalam kasih.

​Ketika matahari mulai bergeser ke barat dan acara berakhir, tidak ada lagi raut wajah lelah. Yang tersisa adalah binar mata penuh harapan, senyum kehangatan, dan dada yang lapang oleh sukacita.

Klasis GKI Teluk Bintuni melalui family gathering di SP 4 Manimeri ini telah membuktikan bahwa ketika persaudaraan dirawat dengan rukun, di sanalah berkat dan kehidupan akan terus tercurahkan. Para pelayan kini siap kembali ke medan pelayanan, bukan lagi dengan beban yang berat, melainkan dengan jiwa yang telah dipulihkan dan hati yang dipenuhi kasih. (*)

Artikel ini telah dibaca 151 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Pdt. Johanis Lanta Ingatkan Para Pelayan Pentingnya Pemulihan Diri

23 September 2026 - 08:04 WIB

FOKER LSM Soal PSN : Pemerintah Harusnya Membangun, Bukan Merampas

4 September 2026 - 21:52 WIB

Polda Pabar Diadukan ke Mabes Polri Soal Pemalsuan Surat Oknum BP Berau

3 September 2026 - 20:44 WIB

Kejati Pabar Tingkatkan Status Perkara Dugaan Korupsi di Balai Gakum LHK Maluku-Papua

2 September 2026 - 12:13 WIB

Wabup Marani Dorong Kolaborasi Pramuka dan Pemda untuk Pembangunan Daerah

14 Agustus 2026 - 11:17 WIB

Lepas Penat, Anggota Paskibraka Papua Barat Unjuk Kekompakan di Pantai Amban

9 Agustus 2026 - 20:15 WIB

Trending di Info Tanah Papua
error: Content is protected !!