Membangun kesehatian memang membutuhkan waktu yang tidak singkat. Karena ini soal bagaimana menyatukan karakter tiap orang, menjadi satu kesatuan pribadi yang kuat. Dan ini, sebuah contoh kecil dilakukan adik-adik pemuda, untuk mencapai kesehatian itu.
Oleh: Valentino Wanma
SINODE GKI di Tanah Papua telah menetapkan tahun pelayanan 2025 sebagai tahun kesehatian. Dimana, kesehatian ini telah menjadi tema sentral untuk menjadi pedoman pelayanan bagi setiap klasis dan jemaat se Tanah Papua.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, kesehatian bermakna; sehati, se-iya atau se-kata. Sehingga, bisa diartikan bahwa ‘kesehatian’ dalam konteks persekutuan, ialah membangun ide ataupun gagasan yang sama demi tujuan bersama.

Bertolak dari makna kesehatian itu, Persekutuan Anggota Muda (PAM) Jemaat GKI Ebenhaezer Sigerau, Klasis Teluk Bintuni, mencoba membangun konsep kesehatian melalui sikap hidup yang nyata.

Dalam ibadah padang yang digelar di Kali Rajawali, Manimeri, Senin (31/3), seluruh pengurus dan anggota PAM Jemaat Ebenhaezer Sigerau telah menunjukkan bahwa kesehatian memang penting dalam sebuah kebersamaan.

Mulai dari belajar tentang firman Tuhan dalam Matius 26:47-56 secara bersama-sama, bermain games tentang kekompakkan, diskusi tentang pelayanan dalam persekutuan hingga doa berantai.

Apa yang dilakukan para pemuda pemudi ini, hanya segelintir dari semua pemuda pemudi GKI di Tanah Papua, yang tengah berupaya membentuk fondasi dalam persekutuan.
Mereka juga hanya segelintir dari semua tulang punggung gereja se Tanah Papua, yang memahami pentingnya membangun persekutuan demi kelangsungan tongkat estafet pelayanan.
Mereka pun sadar, mewujudkan sebuah visi di masa depan, bukan perkara mudah untuk dilakukan. Namun, setidaknya mereka memahami kesetiaan dalam hal kecil, sebelum diberi tanggung jawab untuk hal yang lebih besar. (*)


































Hari ini : 477
Kemarin : 673
Total Kunjungan : 165879
Hits Hari ini : 996
Who's Online : 7