TELUK BINTUNI, mangrove.id| Pihak manajemen Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Teluk Bintuni tengah mengajukan proposal kepada Kementerian Kesehatan RI.
Proposal tersebut, untuk meminta dukungan berupa pengadaan alat-alat kesehatan (alkes) di tahun anggaran 2026.
Dimana, alat-alat kesehatan yang diminta, diantaranya: computerized tomography (CT) scan 64 slice, cytotoxic drugs safety cabinet dan slide scanner.
Plt. Direktur RSUD Teluk Bintuni, dr. Novita Panggau saat wawancara, Kamis (13/11), menerangkan, pengajuan proposal kepada pusat, semata-mata untuk meningkatkan mutu layanan rumah sakit.
“Kami ajukan proposal permintaan alat-alat kesehatan (alkes) ke Kemenkes melalui program SIHREN (Strengthening Indonesia’s Healthcare Referral Network),” sebutnya.

dr. Novita Panggau
Dia menerangkan, langkah rumah sakit ini, sebagai upaya pihaknya meringankan beban anggaran daerah. Sebab, pengadaan tiga alkes ini, jika ditotalkan, akan menelan anggaran yang cukup besar.
“Agar proposal kami diterima, kami harus memenuhi sejumlah syarat, seperti infrastruktur, SDM dan jumlah pasien yang berobat,” katanya.
Secara detil, dr. Novi mengatakan, spesifikasi alat-alat yang diminta, tentunya jauh diatas alkes yang ada saat ini di rumah sakit.
Sebagai contoh, mesin CT Scan yang saat ini beroperasi yaitu, CT Scan 16 slice, spesifikasinya jauh dibawah mesin yang diminta. Ditambah, usia mesin CT Scan saat ini tergolong sudah tua.
“Lalu, alat yang kami minta berikutnya adalah cytotoxic drugs safety cabinet. Ini adalah lemari keselamatan khusus untuk mencampur obat-obatan kemoterapi,” jelasnya.
Dia menambahkan, layanan kemoterapi sampai saat ini tetap berjalan, namun untuk lemari keselamatan khusus, pihaknya menggunakan alat seadanya.
“Bio safety cabinet, ini yang kami punya, dan fungsinya sama. Hanya saja, yang sesuai standard adalah cytotoxic drugs safety cabinet,” bebernya.
Sedangkan, untuk slide scanner, dr. Novi menuturkan, kegunaan alat ini untuk membantu dokter spesialis patologi anatomi, dalam menilai jaringan yang diambil oleh dokter bedah.
Sambung dr. Novi, dokter spesialis patologi anatomi, sangat membutuhkan alat slide scanner ini, untuk mendukung layanan onkologi di rumah sakit.
“Kami berharap, proposal kami bisa diterima. Sebagai persiapan, kami akan memenuhi syarat-syarat yang dibutuhkan. Seperti, infrastruktur yang sesuai standard, SDM terutama dokter spesialisnya harus ada serta jumlah pasien,” sebutnya.
Lebih lanjut, dr. Novi mengungkapkan, berdasarkan informasi bahwa realisasi bantuan dari Kemenkes biasanya pada semester dua tahun anggaran. Karena, di semester satu merupakan fase pemeriksaan dan penilaian.
“Di semester satu itu, pusat akan memeriksa kembali persyaratannya. Apakah sudah terpenuhi atau tidak,” ujarnya.
Dengan adanya program SIHREN dari Kemenkes ini, menurut dr. Novi, menjadi peluang bagi daerah mendapat dukungan pemerintah pusat. Apalagi, saat ini konsentrasi pemerintah pusat menyasar pada Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan (DTPK).
Dengan kondisi geografis kabupaten Teluk Bintuni yang tergolong DTPK, dr. Novi optimis, Kemenkes akan menjawab proposal RSUD Teluk Bintuni.
“Kami optimis bisa terjawab, karena konsen Kemenkes memang diarahkan untuk wilayah-wilayah itu, khususnya Indonesia Timur,” pungkas dokter spesialis penyakit dalam itu. (len)































Hari ini : 788
Kemarin : 670
Total Kunjungan : 177511
Hits Hari ini : 2060
Who's Online : 5