Menu

Mode Gelap

Berita Daerah · 2 Sep 2026 11:44 WIB ·

Kala Pemimpin Hadir Menjadi Saudara dan Kasih Menembus Batas Perbedaan


 Suasana perjumpaan Rheinhard Maniagasi (kanan) bersama Semi Orocomna di tempat sederhana yang menjadi rumah bagi Semi dan keluarga. Perbesar

Suasana perjumpaan Rheinhard Maniagasi (kanan) bersama Semi Orocomna di tempat sederhana yang menjadi rumah bagi Semi dan keluarga.

Oleh: Valentino Wanma

DI sudut Kampung Lama, Distrik Bintuni, Kabupaten Teluk Bintuni- Papua Barat, waktu seolah berjalan dengan ritmenya sendiri.

Di sebuah hunian sementara yang sederhana, beratnya hidup menjadi kawan karib keluarga Semi Orocomna setiap hari.

Semi bukanlah orang yang lahir dari kemudahan. Ia adalah seorang eks simpatisan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang memilih menanggalkan masa lalu kelam demi merajut lembaran hidup baru bersama keluarga.

Namun, keputusan Semi melepas masa lalunya, tidak serta-merta membuat jalannya langsung terang. Hari-hari di hunian sementara sering kali diuji dengan keterbatasan pangan dan bayang-bayang ketidakpastian akan masa depan yang didambakan.

​Di tengah sunyinya penantian akan perubahan nasib, sebuah langkah pasti memecah keheningan pada Selasa, 1 September 2026.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Papua Barat, Rheinhard C. Maniagasi, S.STP, M.Si, hadir bukan sebagai pejabat pemegang kebijakan di atas kertas.

Ia datang membawa kepedulian yang nyata, melangkah menembus sekat-sekat perbedaan, dan menyapa Semi Orocomna dengan kehangatan sebagai saudara.

Siang itu, sebuah paket bahan pokok, tersaji. Aksi spontan dari hati yang tidak tega. Ini bukan sekadar paket bahan pokok, tapi ini tentang kasih yang nyata dan bukti dari sebuah tindakan tanpa menunggu perintah.

Ketika paket bahan pokok berpindah tangan, terselip tatapan penuh makna dan dekapan persaudaraan yang meruntuhkan tembok-tembok kecurigaan masa lalu.

Bagi Alumni IPDN Angkatan XVI/2008 itu, merangkul mereka yang pernah tersesat di jalan yang salah adalah panggilan moral yang tidak boleh ditawar.

Menurutnya, negara harus hadir bukan dengan hukuman yang menjerakan semata, melainkan dengan cinta kasih yang memulihkan, merangkul, dan menuntun kembali mereka yang tersesat.

​Kisah Semi Orocomna dan Rheinhard Maniagasi mengajarkan kita satu hakikat hidup yang agung bahwa, benci tidak akan pernah memadamkan bara konflik, tetapi cinta dan perhatianlah yang mampu mencairkan kebekuan hati.

Siapapun dia, sekalipun kelam masa lalunya, selalu ada harapan akan masa depan yang cemerlang. Selama masih ada niat untuk berubah, pasti ada ruang untuk pengampunan dan kesempatan untuk memulai hidup yang baru.

​Pertemuan di hunian sementara Kampung Lama itu menjadi sebuah simfoni tentang harapan. Bahwa kedamaian sejati di Tanah Papua tidak selalu lahir dari atas meja perundingan yang megah.

Melainkan dirajut dari hal-hal kecil yang tulus, dari sepaket bahan pokok yang tak bernilai, dari sapaan hangat seorang pemimpin dan dari keberanian seorang manusia untuk memilih jalan terang.

Dari Teluk Bintuni hari ini, pesan itu bergema menembus batas ruang dan waktu. Saat mengalahkan ego menjadi kemenangan terbesar, dan kasih yang tulus menjadi bahasa universal yang mampu melelehkan hati sekeras baja. (*)

Artikel ini telah dibaca 114 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

PELTI PB Sukses Gelar Pertandingan Junior dan Kelompok Umur

26 Agustus 2026 - 12:02 WIB

Dua Ganda Putri Cinnamon Melaju ke Final di Ivent Gelaran PELTI Papua Barat

24 Agustus 2026 - 10:11 WIB

MBG di Papua Barat : Menggerakkan Ekonomi atau Memperbesar Kebocoran?

18 Agustus 2026 - 20:51 WIB

PELAYANAN DASAR BUKAN SEKEDAR LAYANAN, TAPI HAK MUTLAK

11 Agustus 2026 - 11:58 WIB

CTMC Sukses Gelar Fun Games Tennis, Wadah Penjaringan Atlit Usia Dini

10 Agustus 2026 - 10:56 WIB

MATA UANG YANG BERNAMA KEPERCAYAAN

7 Agustus 2026 - 10:42 WIB

Trending di Berita Daerah
error: Content is protected !!